NU Sudah Putuskan Sukarno-Hatta Pemimpin Indonesia Sejak 1940


Beberapa keputusan Muktamar ke-15 Nahdlatul Ulama' (NU) yang dilaksanakan pada tanggal 10-15 Dzulqa’dah 1359 H / 9-15 Desember 1940 di Surabaya merupakan penegasan keputusan muktamar sebelumnya, di Magelang. Muncul nama dwitunggal Soekarno-Hatta sebagai calon pemimpin nasional.

Muktamar yang dihelat di kota kelahiran ini dihadiri oleh 1.232 orang yang terdiri dari 474 ulama, 276 non-ulama, 78 pemuda Ansor, 19 tokoh Muslimat, 17 orang konsul seluruh Indonesia, 17 tokoh puncak HBNO dan 351 anggota HCC (panitia muktamar). Ini belum terhitung jumlah pengunjung yang tak terdaftar sebagai peserta resmi. Lokasi muktamar yang tidak jauh dari stasiun kereta api dan kurang lebih 3 kilometer dari kawasan makam Sunan Ampel juga membuat suasana meriah.

Berbarengan dengan Muktamar NU ini, Barisan Ansor NU (BANU) melangsungkan mubarozah (perkemahan jambore) di tanah Japang, Kedungdoro. Menjelang pembukaan muktamar, seluruh barisan besar BANU mengadakan taptu (pawai obor) keliling kota di bawah pimpinan Imam Sukarlan Suryoseputro, Inspektur Umum Kwartir Besar Barisan Ansor NU. Pawai obor yang disambung dengan atraksi pencak silat tersebut menarik perhatian khalayak Surabaya. Di kota kelahirannya ini, NU berusaha menampilkan diri sebagai organisasi yang layak diikuti.

Setelah bersidang beberapa hari, muktamar ke-15 ini menghasilkan keputusan sebagai berikut:


  1. Memilih kembali Hadratussyaikh KH.M. Hasyim Asy’ari sebagai Rais Akbar, KH. Abdul Wahab Chasbullah sebagai Katib Aam dan KH. Mahfudz Siddiq sebagai Ketua Tanfidziyah PBNU.
  2. Memberi dukungan atas terpilihnya KH. A. Wahid Hasyim menjadi Ketua Dewan MIAI, dan siap memberi bantuan kepada yang bersangkutan dalam melaksanakan tugasnya, baik yang bersifat nasional maupun internasional.
  3. Menyetujui rencana program yang telah disusun oleh Ketua HBNO Bagian Ma’arif, KH. A. Wahid Hasyim.
  4. Menyerahkan rencana reglemen (peraturan) pertanian NU kepada HBNO.
  5. Mengesahkan reglemen Barisan Ansor NU (termasuk pakaian seragamnya, lagu resmi mars “al-iqdam” dan segala atribut Barisan Ansor NU). Sidang Komite Khusus Syuriah telah mengambil keputusan tentang pemakaian terompet dan genderang Barisan Ansor NU dengan perbandingan: jawaz (35 suara), haram (5 suara), dan abstain (4 suara). Keputusan Sidang Komite Khusus Syuriah tersebut dibenarkan oleh sidang lengkap Syuriah muktamar.
  6. Memberi kuasa kepada HBNO untuk merancang rencana penggunaan uang kas masjid yang dikuasai oleh kantor-kantor kepenghuluan untuk kemaslahatan kaum muslimin.
  7. Mendesak pemerintah untuk mengabulkan beberapa mosi permohonan yang menjadi keputusan Muktamar NU ke-14 di Magelang yang belum ada reaksi dari pemerintah.


Poin ketujuh adalah di antara keputusan penting yang berkaitan dengan tuntutan NU yang disepakati pada muktamar di Magelang satu tahun sebelumnya. Namun keputusan yang paling penting saat Muktamar NU kelimabelas adalah mengenai sikap NU terhadap calon pemimpin nasional.

Pada muktamar ini NU telah yakin bahwa kemerdekaan akan segera tercapai. Sehingga perlu mengadakan rapat tertutup guna membicarakan siapa calon yang pantas menjadi presiden pertama Indonesia. Menurut KH. Abdul Halim dalam “Sejarah Perjuangan KH. Abdul Wahab”, rapat rahasia ini hanya diperuntukkan 11 orang tokoh NU yang dipimpin oleh KH. Mahfudz Siddiq dengan mengetengahkan dua nama: Ir. Soekarno dan Muhammad Hatta. Rapat berakhir dengan kesepakatan: Ir. Soekarno calon presiden pertama, sedangkan Muhammad Hatta (ketika itu hanya mendapatkan dukungan satu suara), sebagai wakilnya.

Jelaslah, sejak awal NU mendorong tercapainya kemerdekaan Indonesia. Manakala senjakala kekuasaan Belanda di Indonesia nyaris runtuh, NU telah menggodok draft siapa calon pemimpin yang layak menjadi orang nomor satu di sebuah negara yang bakal diproklamirkan kelak. Alih-alih menyodorkan kadernya sendiri sebagai calon pemimpin, NU secara obyektif melihat bahwa kedua orang tersebut lah yang layak dan pas menjadi duet yang memimpin sebuah negara yang bakal lahir. Prediksi hasil rapat rahasia tim 11 ini menjadi kenyataan pada tahun 1945 manakala Bung Karno dan Bung Hatta menjadi dwitunggal Indonesia.

Wallahu A’lam Bisshawab. (Rijal Mumazziq Z)

0 Response to "NU Sudah Putuskan Sukarno-Hatta Pemimpin Indonesia Sejak 1940"

Post a Comment