Bidak-bidak Penjaga Makam


"Catur adalah kehidupan" demikian jawab Harun al-Rasyid ketika ditanya apakah al-Syath/syithronju, suatu permainan yang konon ada sejak masa 7 abad sebelum masehi.

Syathranj berasal dari bahasa  Sangsekerta kemudian di-Parsikan. Masuk ke arab melalui Parsi. "Syathra" berarti catur , empat, segi empat. Sedangkan "anga" berarti pasukan. Demikianlah catur merupakan permainan strategi perang, hidup diatas papan segi empat. Permainan ini banyak mengilhami failusuf Al-Kindy (Abu Ya'qub), para penyair dan para raja-raja.

Bila tuan-tuan bertanya tentang khukumnya, tentu khifaf para ulama yang akan tuan temukan. Jika tuan senang pada permainan ini bertanyalah hukumnya pada sahabat Sa'id ibn Jubair ra, atau pada ulama Syafi'iyyah. Maksimal beliau-beliau akan menjawqb makruh dan Jawaz. Inilah yang banyak diikuti di NUsantara. Jadi tidak elok kita meributkan fatwa yang mengharamkan karena masalah khilafiyyah seperti cigarette.

Bagi orang segembel kami catur sangat bermanfaat untuk menangkal maksiat yang lebih besar. Setidaknya tidak mungkin kami ghibah atau menggoda/zikiran wanita jika sedang bermain catur. Atau bahkan catur dapat mempererat silaturrakhim. Tentu saya beralasan demikian karena guru2 saya banyak yang suka catur bahkan kyai saya pun dahulu seorang master.

Adalah Ibnu Fahimin santri alumni Ploso sebagai syawir dan tua di Pondok ditugaskan oleh salah seorang kyai pndok pesantren  untuk mengajar saya dan saudara2 saya.  Meskipun putra seorang yang kaya beliau tetap bersahaja. Kehidupannya hanya mengandalkan panen kebunnya sedangkan waktunya dihabiskan untuk mengajar di pondok.

Kegemarannya bermain catur tidak ketulungan, jika malam selasa waktu liburan pondok dihabiskan malam dan siangnya untuk catur. Seluruh guru yang ada tidak dapat mengalahkannya kecuali kyai saya. Beliau ibn Fahimin itu sama sekali tdk pernah terucap dari mulutnya kejelekan orang lain. Masyaalloh,,, hanya bicara ilmu dan mesem yang keluar.

Sayang... baru katam al-Amrithi saya ditinggal beliau kira kira th 80 an. Beliau dipanggil kehadirat qudsiyyah dan dimakamkan di belakang masjid. Kemudian 15 tahun berikutnya disusul oleh putranya yang bernama Kholid.

Pada waktu kematian anaknya itulah terlihat kemulyaan sang guru. Entah kenapa penggali kubur tidak cermat sehingga digali tanah tepat diatas kubur bapaknya. Betapa kaget dalam kedalaman ttn yang nampak adalah jasad bapaknya yang masih utuh dan kafan yang masih putih bersih serta bau wewangian. Subkhanalloh...

Kemudian sayapun bertanya pada kyai,,, amal beliau ibn Fahimin yang istemewa sehingga kemulyaannya ditampakkan pada kami .? Kyai saya menjawab dengan mesem, ; "Beliau selalu istiqomah mengajar, tidak pernah ghibah dan ... sering bermain catur dengan saya."

"Jadi yang menjaga jasad beliau sehingga utuh itu bidak-bidak caturnya kyai?" Begitu tanya saya di dalam hati ... (rakhimahulloh)

Bugen, ahad, 14 Rab Akhir 37
* Nasehat mulia dari KH Ubaidillah Shadaqah Rois Syuriah PWNU Jateng yang ditulis di wall FB beliau "Kang Ubeyd"

0 Response to "Bidak-bidak Penjaga Makam"

Post a Comment